Rabu, 15 April 2009

ANOTHER CHAPTER OF MY LIFE

“Dengar Ind, aku akan menikah bulan depan… tanggal tiga tepatnya…”
“A…? wah… Subhanallah…”

GREAT! CONGRATULATION!!
I JUST WANNA RUN AND KILL MYSELF AT THE CORNER!! SEE YA!
THE STORY OF MY LIFE!!
IT JUST SUCKS!!

Malam yang hebat! Kau tak pernah benar-benar tahu kapan kau akan tertimpa tangga yang sangat berat-kan? Dan ini adalah tangga-ku! Laki-laki yang pernah kusuka, dan aku berani bersumpah dia-pun menyukaiku! Mengatakan kalau ia akan menikahi wanita lain saat aku mengira pada akhirnya kami akan benar-benar menjalin sebuah hubungan… setidaknya aku mengira akan ada kesempatan lain bagiku.
Apa ini? Apa yang terjadi disini?
Ini berarti sudah 3 kali, bukan, 4 kali aku di tinggalkan lelaki yang kusuka untuk menikah, dengan orang lain! Belum terhitung mereka yang menolakku dengan alasan lain…
Pertama ada pria Jawa yang masih kerabat, yah, dia adik sepupu ibuku. Itu adalah perjodohan sejak kecil… aku menolak, dan dia lelah menunggu, akhirnya dia menikahi gadis Betawi pewaris tunggal kekayaan ayahnya, dengan tanah dan kontrakan dimana-mana… selamat!
Kemudian dengan seorang duda beranak 2, dimana sangat melukai-ku karena tiba-tiba saja ia menikahi orang lain setelah dua bulan hubungan kami cukup intens dan anaknya telah memanggilku ‘Ummi’! dan aku mengetahui berita itu dari supirnya!! Demi tuhan dari supirnya!!
Lalu pria yang menjadi idolaku semasa SMU, menolak menikahiku karena ia telah terikat dengan seorang gadis muda yang tiga atau lima tahun lebih muda dari pada diriku….
Dan ini… Dia, seseorang yang pernah dekat denganku dulu sekali, semasa kami SMU. Persahabatan kami mungkin bisa disebut sebagai persahabatan yang tanpa tendensi apapun…
Namun semua berkembang, atau itu hanya hayalanku saja…
Kami sempat lama tidak berhubungan, karena jarak, kesibukan kami masing-masing, dan tidak melakukan komunikasi satu sama lain untuk waktu yang lama. Lalu tiba-tiba, ia menghubungiku, entah dengan angin darimana, ia menguhubungi nomor selularku dan kami terhubung kembali begitu saja.
Seperti menemukan teman hidupmu, teman yang begitu mengenalmu. Dan dia memang mengenalku… tidak perlu menjelaskan seperti apa dia mengenalku, tetapi ia mengenalku. Ia sangat tahu dibalik cangkang kerasku terdapat krim lembek yang mudah sekali mencair bagaikan mentega yang terpanggang api panas.
Ia mengenalku lebih lama dari semua sahabat yang kini dekat dihatiku…
Ia sahabat hatiku yang pertama.
Dan rasanya sedih mengetahui ia akan menikahi orang lain. Padahal aku sungguh berharap kali ini akan berbeda. Kali ini ia akan melihat kalau aku siap. Aku siap untuknya…
Malam itu, aku bahkan tidak sanggup menghabiskan desert ice cream coklat favorit-ku yang biasanya habis dalam waktu sekejap.
Aku tidak siap mendengar curahan hatinya, kekhawatirannya kalau kenyataan bahwa wanita yang akan dinikahinya sulit untuk beradaptasi dengan ibunya yang janda.
Aku tidak sanggup mendengar detail persiapan pernikahannya…
Tetapi aku tidak sampai hati untuk menghentikannya. Bak bunda Theresia aku duduk tenang mendengarkan setiap detail rincian dari kisahnya, kisah mereka, sebelum, sesaat dan sesudah…
Selamat mas,
I just broke my heart…
Saat ini aku sangat ingin menjadi siapapun selain diriku… aku tidak bahagia dan aku sedih, sangat sedih.
Aku baru saja dipecat (lagi!) dan kehidupanku belum seperti yang kuinginkan, jauh dari yang kuinginkan bahkan…
Dalam jurnal harianku bertahun-tahun silam aku pernh menulis bahwa aku akan menyelesaikan kuliahku selambat-lambatnya diusia 24 tahun, menjadi kepala sekolah diumur 25 tahun, dan menikah diusia 26 tahun…
Aku memberi diriku sendiri sebuah harapa kosong yang berlebihan…
Kenyataannya, kini diujung usia 20-anku, 29 tepatnya, aku belum juga menyelesaikan pendidikanku, pengangguran dan belum menikah. Aku baru saja di tinggalkan seseorang yang anehnya kembali hanya untuk mengabarkan kalau ia tidak akan tersedia dengan leluasa untukku… tidak pernah untukku, selalu untuk yang lain, tetapi bukan untukku.
Semua sahabatku telah menikah. Memiliki kehidupan mereka masing-masing. Tidak adil rasanya jika mereka bisa menikmati lengan hangat lelaki-lelaki yang mereka cintai sementara aku terdampar dipulau terasing yang dulu tidak terlalu sepi yang bernama negri ‘kesendirian’ ini.
Aku tidak ingin menjadi penduduk tetap dinegri ini, karena semua teman-teman terdekatku telah menemukan pangeran penyelamat mereka, dan itu menjadikanku anggota terakhir dalam kumpulanku. I’m the last on my pack, the last of the mohicans, the last member of the tribes… the last virgin alive…. Ya, berlebihan memang.
Hal terakhir yang ingin kudengar dari sahabat-sahabatku adalah, bahwa mereka masih tetap memiliki masalah yang sama, kesulitan yang sama, dan lain-lain, bahkan mungkin lebih berat dari yang lainnya, yang semestinya dapat sedikit menghiburku, atau setidaknya melegakanku. Tapi kenyataannya tidak.
Aku tidak kunjung lega melihat mereka dan suami-suami mereka… bagiku mereka tidak sendiri lagi, setidaknya mereka melewati semua itu bersama seseorang…
Jangan salah sangka, aku menyayangi mereka, dan menghormati suami-suami mereka… tapi sulit sekali bagiku untuk bisa melihat mereka tanpa ada tusukan tajam dihatiku dan menyadari kalau aku masih sendiri… mereka seumuran denganku, mereka hidup dengan gaya hidup yang hampir sama denganku, mereka menyukai banyak hal yang sama denganku… tapi mereka tidak lagi sendiri, lebih cepat dariku.
Ini membuatmu sedikit merasa tidak percaya diri. A little bit feeling unsecure with your self.
Apakah karena mereka lebih memiliki sikap positif dari pada aku, yang lama menjadi sinis seiring waktu? Atau karena mereka lebih layak dari pada diriku?
Saat kami berkumpul, bertemu, mereka akan membicarakan lelaki-lelaki yang mereka miliki, bagaimana, seperti apa dan semuanya… mengalir begitu saja secara natural… tanpa maksud apapun. Dan aku akan memasang senyum terbaikku, membunuh hati cemburuku dan berusaha bahagia untuk mereka… karena aku menyayangi mereka… mereka sahabat-sahabat hatiku, yang walaupun kini tidak lagi memiliki waktu untukku sebanyak dulu, tetapi aku yakin mereka menyayangiku…
Kemudian masalah pekerjaan. Jika aku tidak memiliki kehidupan cinta yang membara, atau setidaknya cukup untuk mengisi hatiku, setidaknya, seharusnya aku memiliki karir yang bagus sebagai kompensasi dari hal itu bukan? Tetapi tidak. Aku juga tidak memiliki pekerjaan yang bisa kubanggakan saat ini. Tidak punya sama sekali bahkan!
Nampaknya aku masih harus menyeret kakiku lebih lama di negri ini. Terseok-seok mengumpulkan bahan bangunan untu jembatan yang dapat menyebrangkanku kenegri sebrang, tempat dimana impianku akan terwujud.
Impianku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang manusia.
Aku ingin dimanusiakan dengan kehadiran orang lain dalam hidupku. Seseorang yang benar-benar berbeda dariku. Seseorang yang tidak mirip sama sekali denganku. Seseorang yang dari semua hal tadi, benar-benar sesuai denganku. Seorang pria, lelaki, yang akan membawa tanganku dan berjanji menjadikanku istrinya dan ibu dari anak-anaknya.
Aku ingin dimanusiakan dengan kehadiran orang lain dalam hidupku, yang akan membawa kebahagiaan dan tawa pada kedua mataku, yang mengatakan bahwa masa bersedihku selesai karena ia ada disini, yang menyudahi tangis berkepanjanganku dari luka dan lelah karena menanti yang menyudahi perih dihatiku dan membasuhnya dari keburukan dunia yang kukenal dan tumbuh bersamaku sekian lamanya, yang tidak pernah berhenti dan lelahnya meyakinkanku bahwa aku tidak sendiri, bahwa ia ada untukku, ia disana dan hanya aku yang akan memilikinya. Seseorang yang bangga menyandang gelar ‘suamiku’ dimuka umum, dimanapu, pada siapapun.
Seseorang yang bersamanya aku tak perlu khawatir sendiri lagi. Seseorang yang bisa kubicarakan pada sahabat-sahabatku bahwa milikku ini juga manusia biasa… dengan kekurangan-kekurangannya, tetapi cukup untuk membuatku jatuh hati setengah mati padanya.
Seseorang yang akan ada saat aku tak sanggup menghadapi pagi hari jikapun akan ada hari yang begitu berat bersamanya. Aku ingin hidupku dipenuhi olehnya, dilengkapi olehnya.
Seseorang yang dapat kusebut sebagai ‘miliku’, karena sudah lama rasanya aku tidak memiliki apapun yang dapat kusebut sebagai ‘milikku’.
Ya Tuhan… biarkan aku memiliki itu… aku mohon pada Mu. Aku mohon.
Sampai hari itu tiba, kurasa aku takan pernah dapat merasa lega… lega dari dalam, yang dapat menyembuhkan semua sakitku, lukaku, letihku.
Jadi, episode ini masih akan berlangsung dengan satu lagi seri yang sama, babak yang sama seperti yang sudah-sudah, yaitu babak; KEHILANGAN DAN MELEPASKAN.
Semoga aku tak perlu berdiam terlalu lama disini. Amin.

1 komentar:

  1. Fasenya emang ga mudah mba. I've been there. Dan U know, ternyata di fase apapun ada titik-titik ketidaknyamanan yang membuat jita iri melihat orang di fase lain.
    Jadi.... apapun itu, nikmatin aja. Sibukkin diri dengan jualan kek, kursus bahasa prancis kek, belajar ngerajut kek.. bikin impian-impian laen seperti beli LCD, beli mobil, de el el.
    Percayalah... berkeluarga itu nikmat sekali, bahkan walau derai air mata kadang lebih deras daripada semasa single, tetapi berkeluarga itu memang suatu anugrah.

    BalasHapus